Sabtu, 14 Februari 2009

PEMILU ISRAEL: Instabilitas Politik Akibat Hasil Pemilu

Israel kini menghadapi kemungkinan instabilitas dan ketidakpastian politik maupun lumpuhnya proses perdamaian Timur Tengah. Itu disebabkan hasil pemilu yang menyatakan Partai Kadima unggul tipis, tapi pembentukan pemerintahan koalisi akan lebih condong jatuh ke tangan Partai Likud.

Kadima yang bergaris tengah dan dipimpin Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni meraih 28 dari 120 kursi parlemen, unggul hanya satu kursi dari partai sayap kanan Likud pimpinan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Hasil tersebut tidak langsung menjamin Livni naik sebagai perdana menteri. Para analis melihat justru Netanyahu yang lebih berpeluang membentuk pemerintahan. Berdasar pada hukum Israel, pemerintahan dibentuk orang yang mampu mengumpulkan suara mayoritas di parlemen.

Seperti diungkap AFP, ada kemungkinan Livni dan Netanyahu akan membentuk pemerintahan aliansi dengan mengikutkan Partai Buruh pimpinan Menteri Pertahanan Ehud Barak. Langkah itu sekaligus mampu melemahkan posisi partai kanan garis keras Yisrael Beitenu pimpinan Avigdor Lieberman yang meraih 15 kursi.

"Netanyahu kurang berminat dengan pemerintahan sayap kanan yang terlalu ekstrem karena akan ditanggapi negatif Amerika Serikat," tulis harian Maariv, kemarin.

Pejabat Palestina sudah memperingatkan pemerintahan Israel yang melibatkan partai sayap kanan akan bisa menghancurkan proses perdamaian Israel-Palestina yang digagas Amerika Serikat.

Presiden Israel Shimon Peres akan bertemu pemimpin para partai pada Rabu (18-2) untuk menentukan partai manakah yang akan ditunjuknya membentuk koalisi pemerintahan. n MI/N-2

Di sisi lain, juru bicara PBB Michele Montas, kemarin, menyebut tim PBB yang bertugas mengusut serangan Israel ke fasilitas PBB di Jalur Gaza bulan lalu segera bertolak ke Israel dan teritorium Palestina. Tim itu dipimpin mantan utusan PBB untuk Nepal, Ian Martin.

Pengamat PBB untuk Palestina Ryad Mansour menyatakan tim dijadwalkan berangkat 19 Februari. Serangan Israel itu menghancurkan kantor PBB untuk pengungsi Palestina dan sekolah yang didirikan PBB.

Sementara itu, kantor berita Mesir MENA menyatakan Hamas telah menerima usul Mesir mengenai gencatan senjata 18 bulan dengan Israel di Gaza. Imbalannya adalah Israel harus mencabut blokade terhadap Gaza.

taken from: lampungpost

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar